Pagi ini penumpang yang hendak melaju ke arah Tanah Abang menumpuk akibat jadwal yang terlambat. Saya menunggu di stasiun sejak pukul 7.18, namun kereta baru mendecit untuk berhenti tepat di depan peron dua pada pukul 7.45.

Sebelumnya petugas sudah mewanti-wanti para penumpang, untuk tak menyeberang karena kereta akan berdatangan dari dua arah.

Enggan masuk ke gerbong karena antrean penumpang mencapai empat lapis, saya pun memutuskan untuk mundur dan menunggu kereta selanjutnya.

Saat memperhatikan para penumpang naik di pintu kereta paling belakang, saya amat terkejut.

Seorang petugas dengan tampang masam sedang menarik tangan ibu paruh baya untuk naik ke atas peron, tepat di belakang rangkaian kereta.

Saya mengira si ibu terjatuh. Tepat saat ia mampu berdiri di lantai peron, kereta dari arah yang berlawanan, masuk ke peron satu. Kemudian, pada saat yang sama, pintu kereta di depan mata saya, menutup.

Si ibu menjerit kesal. Rupanya ia nekat meloncat turun untuk menyeberangi rel, dan memanjat peron yang tinggi, karena terburu-buru ingin menaiki kereta ke arah Tanah Abang.

Rupanya inilah yang menyebabkan si petugas tadi kesal. Apalagi kereta dari arah berlawanan sedang melaju memasuki stasiun saat itu.

Sambil melangkah melewati saya dan seorang wanita berbaju cokelat muda, ia mengeluh mengapa masinis tak mau menunggunya.

Ia berceloteh pula bahwa seharusnya yang menarik dia tadi adalah keponakannya, karena mereka sudah berjanji menaiki kereta yang sama.

Ibu bergamis hitam dengan bros bunga perak di dadanya itu meninggalkan kami sambil terus mengomel.

Baru sekitat lima langkah berjalan, tiba-tiba ia berbalik badan dan bertanya kepada kami dengan penasaran, “mbak berdua kenapa gak naik kereta tadi?”

Wanita di sebelah saya menjawab, “sebentar lagi juga kereta berikutnya datang. Sudah ada di Stasiun Cisauk.”

Benar saja, sekitar lima menit menunggu, kereta sudah tiba di depan kami dan segera melaju saat jalur telah aman.