Dua calon penumpang mungil mencuri perhatian saya pada suatu pagi, saat melamun menunggu di Stasiun Rawabuntu.

Seorang anak lelaki yang saya taksir berusia sekitar empat tahun, dan adik perempuannya yang berusia kira-kira setahun lebih muda, berjongkok di lantai peron, mengelilingi sang ibu yang mengenakan kerudung cokelat.

Sang kakak mengenakan baju cokelat kotak-kotak, dengan sandal berwarna hitam dan jingga. Adiknya menggunakan baju merah jambu bermotif bunga, dengan sandal yang sama persis dengan kakaknya, namun kali ini warnanya hitam dan hijau menyala. Saya curiga, itu adalah sandal peninggalan kakaknya.

Si adik yang berambut pendek ini berjongkok dengan tenang. Tangan yang satu digunakan untuk memainkan ujung kerudung sang ibu, sementara yang satu lagi selalu menggenggam kudapan. Mulutnya tak berhenti mengunyah, juga mengeluarkan kalimat-kalimat pendek, seperti, “ini di mana? Kita kemana? Itu apanya?”

Sementara itu sang kakak tak bisa diam. Ia sibuk bertanya kepada ibunya, kapan kereta akan sampai. Tampaknya ia tak sabar menunggu saat-saat berkereta.

Sambil sesekali melirik kedua anaknya, si ibu sibuk berkomunikasi melalui pesan singkat dengan seseorang.

Kereta belum juga tiba, membuat lelaki kecil ini gelisah. Matanya terus menerus menatap rel di kejauhan, berharap kendaraan yang ditunggunya segera datang.

Beberapa menit kemudian, sambil terus memencet ponselnya, si ibu berkata kepada anak lelakinya, “Kakak, kita gak jadi ketemu Bu Rini soalnya ternyata hari ini dia ke Bogor.”

Raut muka anaknya pun berubah masam. Dengan bibir manyun, ia memberondong ibunya dengan berbagai pertanyaan.

Tampak tak tega melihat putranya bersedih, si ibu pun berkata, “Kita ke pasar aja yuk? Atau mau ke taman kota?”

Dengan muka berbinar senang, sang anak pun mengiyakan dengan cepat,”Ayuk Bu! Keretanya itu gak sampai-sampai ke sini soalnya ada di pasar ya Bu?”