Dulu, di hari-hari pertama menumpang KRL, saya tak begitu peduli mengapa kereta terhenti lama di suatu stasiun. Paling menunggu sinyal aman, pikir saya.

Namun, suatu ketika di Stasiun Sudimara, berhentinya kereta membuat kesal penumpang. Pintu terbuka lebar-lebar selama bermenit-menit, membuat udara menjadi gerah. Dan pada saat seperti ini, ada satu hal yang disalahkan atas kejadian ini: odong-odong.

Sekali lagi saya tak peduli, hingga kata odong-odong keluar lagi dari mulut wanita petugas keamanan berseragam kelam, ketika seseorang di atas peron mengeluh, mengapa kereta yang ditunggu tak datang jua. Namun saya tak sempat bertanya karena harus segera beranjak saat itu juga.

Di Stasiun Palmerah pada suatu senja yang kian temaram, odong-odong kembali menjadi bahan pembicaraan, lagi-lagi karena penumpang terpaksa berdiri lama di atas peron, menunggu kendaraan mengular menuju arah Serpong, yang tak kunjung tiba.

Tak kuasa menahan rasa penasaran, saya pun bertanya kepada teman seperjalanan yang saat itu ada di sebelah saya: Apa sebenarnya odong-odong yang mereka maksud?

“Odong-odong itu sebutan untuk kereta ekonomi, kan commuter line biasanya nunggu disusul sama kereta itu dulu. Makanya kita suka berhenti lama,” ujar Mbak Ida, di tengah penungguan yang kali ini rasanya tak kunjung berakhir.

Oalah, ternyata odong-odong tak hanya ada di atas aspal, tapi juga ada di atas rel.