Tepat di sebelah tempat kerja saya, terdapat kantor jasa pengiriman paket. Sore itu saya menunggu cukup lama di bangku pelanggan karena hendak mengirim ponsel kepada teman saya di utara Sulawesi.

Peraturannya adalah, paket harus dibuka, dicek dan dicatat jenisnya, dibungkus plastik lengkap dengan segelnya kemudian dikemas lagi agar terlindung.

Sembari menunggu, mata saya menjelajahi isi kantor, dan terpaku pada gambar benda-benda yang harus dilaporkan kepada petugas saat hendak dikirim.

Rasa penasaran saya pun timbul. Kepada para petugas saya bertanya, “Mas pernah gak terima kiriman yang aneh-aneh?”

Mata petugas yang saya tuju langsung berbinar, semangat mengiyakan sambil mengangguk-angguk dan tertawa.

“Apa isinya?” desak saya penasaran. Ia pun berkata bahwa mereka pernah mendapat paket yang telah dibolongi di beberapa bagian.

Apakah si pengirim menyatakan apa yang hendak ia kirim? tanya saya. Ia pun berkata bahwa si pengirim tak mau memberi tahu apa isi paket itu. Namun saat diterima dan digoyang-goyangkan oleh salah satu petugas, paket itu berbunyi: sssssssssssssssss.

Saya semakin penasaran, “Mas buka nggak untuk lihat apa isinya?” (dengan asumsi toh kotak ponsel saya dibuka juga walau dia sudah tahu apa isinya).

Mas petugas itu tersentak kaget dan berkata, “ya enggak lah mbak, orang ternyata paket itu isinya ular!”