National Geographic Indonesia

Kesatria Malam Penyambat Nyawa, Juli 2012

2 Juni 2012
Saya dan rekan-rekan dari Mapagama terkantuk-kantuk di dalam kendaraan, menunggu pak Gunarso, seorang pemburu kelelawar. Sebelumnya kami berangkat dari jantung Kota Jogja menuju rumahnya di Kampung Klapok, Purwosari, Gunung Kidul, berlomba dengan terbitnya sang matahari. Tujuannya agar tiba sepagi mungkin untuk mengikuti ia dan dua rekannya masuk ke dalam gua.

Tetapi yang ditunggu malah ke sana ke mari. Entah apa yang ia urusi. Selain itu, ternyata cucunya ingin ikut. Jadilah kami berangkat ke lokasi sekitar dua jam lebih siang dari rencana awal. Seharusnya jam 7 wib kami sudah siap dengan segala peralatan kami, tetapi baru jam 9 kurang kami membenahi tali temali dan segala perlengkapan untuk menuruni tebing dengan SRT (Single Rope Technique).

Saat tiba di lokasi penangkapan, saya terpana. Saya berdiri di tebing menghadap ke arah laut selatan nan biru membentang, berbatas cakrawala. Sejauh mata memandang, tebing ini mengular di pesisir Gunung Kidul, berliku-liku keperakan diterpa sinar mentari pagi. Nun jauh di kaki saya, sekitar enam puluh meter di bawah, ombak memecah dengan ganasnya, menampari bebatuan yang mencuat dari bawah air. Ketinggian saya saat ini terhadap laut, setara dengan berdiri di lantai 15 sebuah gedung bertingkat, atau setengah tinggi Monas.

Saya sempat melihat seekor penyu di laut (terbayang sebesar apa dia jika dari jarak 60 meter masih terlihat). Dan pandangan saya berkeliaran menyapu permukaan air nun jauh di sana, setelah mendapatkan cerita dari Pak Gun, kalau pada musim tertentu, kadang kawanan paus lewat dengan semburan airnya ke udara.

Peraturannya adalah: tak ada yang boleh turun jika jarum jam telah menunjuk angka satu, karena alasan keselamatan

Kelelawar yang diburu oleh Pak Gun, tinggal di dalam gua. Gua yang letaknya jauh di dasar tebing di bawah sana. Tepat di atas permukaan air yang mengamuk setiap saat. Dan ia bersama rekannya selalu menuruni tebing menuju gua tersebut hanya dengan sebilah bambu yang diberi pijakan. Saya dan fotografer Dwi Oblo hendak mengikuti mereka dalam penugasan kali ini.

Hari semakin siang saat semua peralatan telah siap. Peraturannya adalah: tak ada yang boleh turun jika jarum jam telah menunjuk angka satu, karena alasan keselamatan. Menurut Pak Gun, Saat itu gua bisa jadi sudah tak dapat dimasuki dan ombak akan menerpa terlalu kencang seiring pasangnya air laut.

Mas Oblo turun terlebih dahulu sekitar jam 10. Karena jadwal kita bergeser, saya sudah tak lagi berharap bisa turun ke bawah sana. Hal yang terpenting adalah mendapatkan foto. Saya terpaksa harus rela tak masuk ke gua dan hanya berbagi pengalaman dengan pak Gunarso dan mas Oblo, kemudian menuliskannya di dalam artikel.

Jam demi jam berlalu. Saya duduk berselonjor sambil mengajari cucu pak Gunarso yang berusia sekitar 5 tahun itu menggambar ketika tiba-tiba terdengar suara, “Ti, ayo kamu cepat turun sebelum jam satu. Masih sempat. Ditunggu pak Gun di bawah.” Itu suara mas Oblo, ia mendesak saya sambil sibuk melepas alat pengaman yang tersisa di tubuhnya.

Saya melompat dan tergesa setengah berlari ke tepian tebing. Saya cuma punya waktu kurang dari satu jam untuk menuruni tali, masuk ke gua, dan kembali naik menggunakan ascender, beringsut pada tali setinggi 60 meter. Jantung saya berdebar kencang.

“Mas, ini sudah benar belum?” Ujar saya berdiri di tepian tebing sambil memperlihatkan kuncian tali yang membelit descender kepada Sidik, salah seorang anggota Mapagama. Dari jauh ia pun berkata, oke, tanpa melihat peralatan saya dari dekat. Jantung saya terpacu semakin kencang.
Bagaimana jika saya salah melilitkan tali? Bagaimana jika saya terhempas ke batuan yang mencuat di bawah sana? Tiba-tiba saya menjadi tak percaya diri walapun sudah pernah melakukan hal ini dan belajar lagi seminggu sebelumnya.

Saya jejakkan kaki di ujung tebing, merebahkan diri ke arah laut yang mulai mengganas, kemudian meluncur. Rasanya jantung ini sudah berdebar tak karuan. Semakin dekat ke bawah, tamparan air semakin kencang terdengar. Saya mendarat di atas sebuah batu besar, tempat Fahmi dan Dimas mengamankan tali yang saya turuni. Descender saya terasa membara. Berdosa pada alat rasanya, karena tak turun perlahan. Namun apa daya, waktu mengejar saya.

Saya berpaling ke muka tebing.  Di sana terdapat lorong besar nan kelam, rumah para kelelawar. Berusaha bergerak secepat mungkin, saya loncati batu-batu besar di sela-sela air laut yang menerobos. Saya abaikan uluran tangan pak Gun yang menawarkan bantuan. Mungkin ia pikir saya takut terpeleset di atas batu yang licin. Ya, saya terpeleset berkali-kali, tapi saya sudah tak peduli. Saya lebih peduli pada air yang terus naik setiap menit.

Saya masih berlari-lari di atas pasir lembut yang menghampar di dalam keremangan gua, saat pak Gun dan Martono, rekannya, menunjukkan bagaimana cara menangkap kelelawar. Ini tak berlangsung lama, karena beberapa menit kemudian saya sudah kembali berlari mengarah ke pintu keluar gua. Air sudah hampir mencapai pinggang saat itu, padahal beberapa menit sebelumnya baru hanya di bawah lutut.

Tergesa, saya kembali memanjati batuan raksasa dan memasang peralatan ascender. Saat saya beringsut sejauh tiga meter ke atas, tiba-tiba air menghempas ke batu dan menyambar kaki, untuk pertama kalinya. Ini pertanda tak baik. Air laut sudah semakin naik dan bergolak.  Jarum jam pastinya semakin mendekat ke angka satu. Saya harus naik secepat mungkin atau Dimas, anggota Mapagama yang tersisa, bisa jadi tersapu air pasang.

Sekitar dua puluh meter di atas permukaan laut. Napas saya bagai tertahan. Saya harus berhenti memanjati tali. Badan saya terayun-ayun hebat dipermainkan angin, sekitar tiga meter ke sisi kiri dan kanan dari tempat semula. Seharusnya ada yang memegangi tali saya di bawah, agar tetap stabil dan saya bisa terus naik. Namun yang saya lihat adalah Dimas yang sedang sibuk membereskan peralatan, dan Pak Gun serta rekan-rekannya yang mulai beringsut meniti bambu di tepian tebing. Ujung tali saya melayang bebas di bawah sana.

Sekitar tiga puluh meter di atas golakan laut yang semakin mengganas. “Permisi mbak, saya naik duluan ya,” ujar Martono sambil memanjati bambu di tebing, di belakang saya, tersenyum. Tak ada napas terengah-engah yang keluar dari mulutnya. Saya terkejut kagum dan menjawab terpatah-patah sambil memaksa tersenyum, “Silakan mas.”

Sekitar empat puluh mdpl. Tubuh saya kembali berputar-putar dipermainkan angin ke sana-ke mari. Kali ini punggung saya berbenturan dengan sisa-sisa bambu yang dipakai pak Gun. Akhirnya setiap angin bertiup, saya beringsut naik sebelum tubuh kembali menghempas tebing sembari berusaha menahan badan dengan tangan.

Berkali-kali saya melihat ke atas. Rasanya tebing ini tiada habisnya. Akhirnya setelah seperti berabad-abad lamanya, tiba juga saya di bibir tebing. Dimas akhirnya dapat naik tepat waktu, sebelum ombak melahap habis batu besar itu. Mas Oblo pun datang sambil berkata, “Cepat banget kamu naiknya Ti, aku mau motret kamu dari tebing sebelah sana, udah gak kekejar.” Saat itu saya sudah tak bisa berkata-kata sambil menahan tubuh yang gemetar.

Jadi terbayang kesulitan yang ia hadapi saat turun naik dengan memegang kamera SLR. Terbayang juga sulitnya penugasan-penugasan para penulis, fotografer, dan peneliti lain di berbagai belahan dunia. Para penempuh risiko yang membagikan pengalaman dalam media. Salut untuk mereka.