Lalu lintas padat pagi itu. Bus Transjakarta yang saya tumpangi berjalan tersendat-sendat setelah Halte Pasar Kebayoran Lama.

Selepas underpass, jalur busway menuju Halte Simprug terlihat lengang. Para penumpang masih harus bersabar, karena bus belum bisa memasuki jalur itu akibat terhambat oleh antrean kendaraan yang hendak memasuki jalur umum.

Namun, wanita di sebelah saya tampak hilang kesabarannya. Ia merutuki kendaraan yang menghambat bus dengan berkata, “ini masalahnya apa sih sebenarnya? Heran deh!”

Tadinya saya tak peduli. Tetapi, ia berkali-kali menggerutu, bahkan saat bus sudah melaju kencang di jalurnya.

Lama-lama saya penasaran. Saya menengok ke kanan, ingin tahu seperti apa sang empunya suara.

Wanita paruh baya ini berbusana serba cokelat bahkan hingga ke warna sepatunya. Raut mukanya tampak kesal dan matanya tak lepas dari jalur di depan. Mungkin ia terburu-buru.

Akhirnya saya mengalihkan pandang pula ke jalur di depan bus, saat tiba-tiba terlihat hal yang mengerikan.

Sebuah motor putih muncul dari sisi kanan, hendak menyeberangi jalur Transjakarta.

Sontak saya menguatkan genggaman saya pada gelang-gelang di atas kepala, sambil mengalihkan pandang. Saya takut sekali melihat motor putih itu tertabrak bus yang kami tumpangi, yang sedang melaju kencang.

Untungnya sang pengemudi, sigap. Ia menginjak rem kuat-kuat, membuat bus mendecit berhenti dan pengendara motor pun selamat.

Namun, penumpang yang terlontar ke arah depan akibat rem mendadak itu terlanjur terperanjat dan murka.

“Gila lo! Lihat-lihat dong kalau jalan!”
“Sembarangan banget sih! Udah gak sayang badan, apa?!”
“Woy! Yang bener dong kalau bawa motor!”
“Bego bener sih ni orang!”

Kalimat-kalimat itu diteriakkan para penumpang ke jendela, juga ke celah pintu samping bus.

Saya terkaget-kaget dengan reaksi mereka. Apalagi sang pengemudi cukup lama menghentikan bus, membuat para penumpang semakin menjadi-jadi teriakannya.

Namun, akhirnya kehebohan itu ditutup oleh satu teriakan melengking, yang tak lain dan tak bukan berasal dari wanita di sebelah saya.

“Gila ni orang mau mati, apa?! Kalau mati nanti galak lagilah!”

Kalimat ini membuat saya dan seorang wanita yang duduk di depan saya saling bertatapan lama sekali. Sambil mengerutkan dahi tentunya. Saya sama sekali tidak mengerti apa maksudnya. Saya yakin demikian pula orang di depan saya…