Di jalur aspal dekat halte Transjakarta Pasar Kebayoran menuju ke arah Simprug, tampaknya ada bagian yang tidak rata.

Setiap berada di dekat sana, berkali-kali saya terperanjat. Pasalnya, suara truk kosong atau kendaraan semacamnya yang melaju melewati bagian itu dengan kencang, selalu berderak amat nyaring. Seperti sisi motor yang menghantam aspal, atau mirip suara tabrakan antarwahana.

Namun, tiada yang bisa mengalahkan kekagetan saya pada malam itu.

Baru beberapa langkah keluar dari halte, tiba-tiba terdengar suara jeritan wanita yang amat kencang, disusul suara seperti tabrakan.

Jemari saya spontan meremas lengan Mbak Ida, rekan seperjalanan. Dengan terkejut dan takut-takut, kami pun menengok ke arah jalan.

Jalanan ternyata sepi, hingga jauh ke depan sana. Namun, di arah pandang yang sama, dekat di depan kami, saya melihat gerakan di bangunan kecil di dekat halte.

Seorang wanita bertubuh tambun dengan kemeja warna gading dan celana hitam terlihat salah tingkah kemudian terburu-buru pergi.

Di depannya, di bangunan kecil yang berfungsi sebagai toilet, terdapat pintu berbahan seng yang dipenuhi kardus di sisi bawahnya, menutupi bagian yang bolong-bolong.

Ternyata, pintu itu dibuka paksa oleh wanita tadi, tanpa mengetahui bahwa toilet itu sedang digunakan oleh wanita lainnya yang spontan menjerit kaget. Mungkin kuncinya pun telah rusak.

Karena juga terkejut, pintu seng itu pun dibanting menutup sekeras-kerasnya, menghasilkan suara yang saya kira tabrakan.

Ah untung saja area toilet itu remang-remang…