Saya jarang menumpang di tengah rangkaian. Apalagi jika kereta penuh, saya lebih nyaman berada di ujung sana, di tempat khusus wanita.

Namun kali ini saya duduk di gerbong tengah, di kereta yang melaju ke arah Bogor. Kereta ini datang saat saya turun dari tangga stasiun Tanah Abang, hingga saya tak sempat berjalan ke ujung rangkaian.

Kereta mulai menjadi sepi selepas daerah Manggarai. Di sebelah kanan saya seorang bapak tambun tertidur dan mengorok keras sekali. Di seberang saya nampak seorang pria berpakaian hitam. Ia duduk di lantai, menyandar ke pintu, dan tertidur pula dengan nyenyaknya.

Tubuhnya kekar, dan ia tak mengenakan sepatu di kedua kakinya yang bersih. Membuat saya bertanya-tanya dalam hati, apa yang telah ia lakukan sebelum naik kereta ini. Tapi yang jelas perawakannya bukan seperti peminta-minta.

Ketika kereta meluncur dari Kalibata ke Pasar Minggu Baru, dua petugas keamanan datang memantau keadaan dari satu gerbong ke gerbong lainnya.

Tiba di depan saya, mereka melihat pria yang tertidur di lantai. Seorang petugas berusaha membangunkannya sementara petugas lainnya terus berjalan ke depan.

Pria itu tak bisa dibangunkan, walau tubuhnya sudah ditepuk-tepuk dengan kuat. Petugas segera memanggil temannya dan mereka berdua mengguncang-guncang tubuh si pria, menyuruhnya untuk bangun.

Saya khawatir melihatnya. Jangan-jangan pria itu tak lagi bernapas. Mata semua penumpang sekeliling, tertuju pada mereka bertiga. 

Akhirnya si pria membuka matanya yang tampak sangat berat untuk dilakukan. “Bapak mau ke mana?” ujar petugas dengan keras.

Pria itu menyebutkan kata Cawang dengan kening terangkat, sambil berusaha melihat sekeliling, seperti tak sadar ia ada di mana. “Cawang sudah lewat, Pak! Bapak turun aja ya,” petugas berkata dengan tegas. 

Mereka pun memaksa pria itu. Bahkan ia harus dipapah untuk keluar ke peron Stasiun Pasar Minggu Baru. Saya sendiri jadi agak seram melihatnya. Takut dia tidak berkenan lalu mengamuk. Mungkin orang itu mabuk berat ya.

Di stasiun selanjutnya yaitu Pasar Minggu Baru, saya bersyukur si pria penidur itu tak lagi bersandar di pintu sebelah kiri kereta, karena pintu itulah yang terbuka saat kereta berhenti. Membuatnya pasti terjungkal ke peron jika masih tertidur di sana.