Saya sedang berbincang seru dengan teman sepekerjaan dan seperjalanan, sesaat setelah melewati pintu masuk Stasiun Kebayoran.

Di depan kami, di jalur dua, serangkaian kereta ekonomi sedang berdiam diri menunggu sinyal aman untuk bergerak menuju Stasiun Palmerah, dan lanjut ke Tanah Abang.

Kami harus menunggu kereta itu lewat terlebih dahulu untuk bisa menyeberang menuju peron jalur satu dan menumpang si ular besi ini menuju Serpong.

Entah mengapa, saya enggan mendekati dan menunggu tepat di samping kereta, seperti yang biasanya saya lakukan.

Mungkin karena saat itu penumpang yang ingin menyeberang sudah menyemut di samping kereta, saya perlambat jalan sambil tetap berbincang.

Sinyal sudah berubah warna menjadi hijau kala kereta mulai beringsut ke arah Palmerah. Mendadak saya dikejutkan oleh jeritan para wanita. Salah satunya berteriak, KURANG AJAR!!!”

Saya mengira ada yang terserempet. Namun saat melangkah menyeberangi rel, tercium bau yang amat menyengat. Rupanya salah satu penumpang kereta ekonomi melemparkan air seni ke arah kerumunan orang yang berdiri si samping rel, entah dengan cara apa.

Seorang wanita membuka cardigan yang menutupi bajunya, sementara wanita lainnya bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci bagian baju yang terkena, sambil menggerutu. Untung saja tak terkena wajah.

Sekitar sebulan kemudian, saya mencium lagi bau yang sama, di tempat yang sama. Mungkin kejadian itu berulang kembali.

Saya tak habis pikir. Apa tujuan orang tersebut, ya? Kepuasan apa yang ia peroleh dengan membuat orang lain marah?

Satu hal yang jelas, saya tak lagi mau dekat-dekat kereta ekonomi.