Setiap pagi saya selalu berusaha mengejar kereta pukul 7.50 yang berangkat dari Stasiun Rawabuntu.

Kadang jadwal kereta pada jam ini amat tepat waktu, bahkan bisa jadi tiba sebelumnya, ataupun syukur-syukur telat sedikit karena saya yang biasanya terburu-buru, setelah mengantar si kecil sekolah.

Suatu pagi, saat sedang berjalan di parkiran menuju loket, tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa kereta akan datang dari dua arah secara bersamaan: Sudimara dan Serpong.

Tak ingin tertinggal, karena kereta berikutnya baru akan datang 30 menit kemudian, saya langkahkan kaki semakin cepat, setengah berlari memasuki stasiun.

Berhasil.
Kereta belumlah tiba di samping peron.

Saya pun lekas-lekas menyeberangi rel, mengikuti petunjuk petugas yang gerakan tangannya menyuruh untuk berjalan cepat.

Namun tiba-tiba tangan saya yang berayun menabrak tas saya sendiri, menyebabkan kartu commuter line yang sedang saya pegang, melayang dan terjatuh tepat di tengah kedua rel yang sedang saya lintasi.

Astaga!

Saya berusaha mengambilnya secepat mungkin. Tetapi Anda tahu kan, apa rasanya berusaha mengambil kartu tipis yang seolah menempel di aspal mulus, tak juga terangkat, sementara klakson kereta terdengar dari dua arah?

Sambil merutuki keadaan, saya berusaha menggeser kartu, mencari sedikit celah untuk mencungkilnya dengan kuku sambil berpikir, apakah saya harus meninggalkan rel sekarang juga?

Sekitar lima detik kemudian, akhirnya kartu terambil, dan saya menaiki peron diiringi tatapan para petugas dan juga penumpang.

Walaupun kereta tiba di ujung peron sekitar 20 detik setelah itu, saya tetap saja deg-deg an dan lemas.