Malam itu mendekati Stasiun Rawabuntu, suasana kereta semakin lengang.

Sejak dari Stasiun Sudimara, tiga stasiun sebelum Cisauk, dua orang rekan kerja bercakap-cakap dengan bersemangat, menarik perhatian saya.

Seorang di antaranya bertubuh tambun dan ceria yang disapa Mbak Ima, sedangkan seorang lagi entah siapa namanya.

Saat itu suara petugas tak terdengar jelas di gerbong. Mungkin sistem suaranya terganggu, sehingga penumpang yang tak awas bisa jadi tak tahu, stasiun apa yang hendak mereka masuki.

Perlahan, roda kereta menyentuh area Stasiun Rawabuntu. Saya, diikuti si Mbak Ima, berdiri dan melangkah ke pintu gerbong. Mata Mbak Ima tak lepas dari rekan kerjanya, dan ia tetap berceloteh riang.

Namun saat itu juga, raut muka rekan kerjanya langsung berubah khawatir.

“Ini Rawabuntu, Mbak Ima!!”

Mbak Ima pun sambil tertawa-tawa, menyahut lantang: “aku duluan yaa.”

“Ini Rawabuntuu!” ujar rekannya dengan suara lebih keras lagi.

“Ah, aku turun dulu yaaaa. Dadaaaaah.”

“Mbak Imaaaa, ini Rawabuntuuuuuu!” teriak rekannya yang tetap duduk, sedikit putus asa, seiring langkah kaki Mbak Ima yang sudah menjejak peron.

Di peron, saya berhenti memperhatikan, hendak bertanya mau ke mana dia sebenarnya. Namun belum sempat saya berkata-kata, si mbak terhenti dan tertegun saat melihat plang nama di pagar peron.

“Eh ini Rawabuntu apa Cisauk sih? HIHIHIHIHIHIHI,” ia berkata keras sambil terkikik geli, kembali melangkah ke atas gerbong yang pintunya dua detik kemudian langsung tertutup.

Aduh ada-ada saja si mbak. Untungnya ia sempat masuk kembali ke kereta. Saya seperti menonton adegan Srimulat di televisi saja rasanya.