Pagi itu saya sedang berkendara di tengah padatnya jalan raya Pahlawan Seribu, Tangerang Selatan. Suara musik dari radio sengaja saya kencangkan, untuk mengenyahkan rasa bosan.

Tiba-tiba, di tengah celoteh riang Indy Barends, terdengar suara berdebum. Napas saya terhenti sesaat karena terperanjat. Pasalnya, bunyinya kencang sekali, sampai-sampai seluruh kaca mobil ikut berderak.

Bum… Bum… Bum… Satu kali, dua kali, tiga kali. Dengan jantung berdebar, saya celingukan mencari sumber suara itu di jalanan.

Pikiran saya langsung melayang ke salah satu adegan dalam film Jurassic Park berikut gelas serta air yang beriak akibat langkah dinosaurus, T-rex kalau tak salah.

Namun, debuman ini cukup cepat ketukannya. Membuat saya tersadar, tak mungkin ada dinosaurus yang berlari sekencang ini di luar sana.

Setelah mencari agak lama, akhirnya saya menemukan bahwa posisi debuman tersebut berada tepat di sebelah kiri kendaraan.

Alih-alih T-rex, ternyata seorang pria paruh baya berperawakan kurus dengan rambut memutih lah penyebabnya. Dari mobil jeep tuanya, sebelah lengannya yang dibalut kaus hijau garis-garis keluar dari jendela yang terbuka.

Di jemari tangannya yang menggengam kemudi, terlihat sebuah cincin bermata besar dengan warna hijau yang sama dengan kausnya.

Saya terpana.

Pada sudut tertentu, saat si kakek posisinya sejajar dengan saya, tak ada derakan yang ia timbulkan pada kaca mobil.

Namun saat antrean lampu merah membuatnya terhenti sekitar satu mobil jaraknya di sisi kiri belakang saya, derakan kaca pun terdengar kembali.

Saya pun mencoba memaklumi. Mungkin saja ia sedang pamer peralatan barunya, atau pendengarannya memang sudah agak terganggu.

Saya terkikik geli, sementara si kakek tentu saja tak peduli akan tatapan petugas kebersihan di pinggir jalan.

Ia terus saja menganggukkan kepala mengikuti hentakan musik yang entah berapa desibel kekuatannya.

Bum bum bum.