Saya senang. Kini gerbong kereta sudah bertambah, menjadi sepuluh dalam satu rangkaian. Artinya, ruang semakin luang. Kadang saya pun mendapat tempat duduk di gerbong khusus wanita, di rangkaian paling belakang.

Di Stasiun Rawabuntu, bangku peron terakhir ada di deket WC, masih bergerbong-gerbong jauhnya dari ujung kereta yang saya incar. Jika kereta tak kunjung tiba, saya kerap duduk di bangku ini.

Suatu ketika, saat sedang asyik berkirim pesan kepada adik melalui ponsel sambil duduk bangku itu, tiba-tiba lelaki penjaga WC di belakang saya berteriak kencang dengan kaget.

Belum sempat saya mencerna apa yamg dikatakannya, suara seorang ibu yang marah terdengar tinggi melengking, “Ya bilang atuh Pak! Saya kan dari Banten!!”

Saat menengok ke arah WC di belakang saya, tampak seorang ibu berbaju hitam berhias bunga-bunga beragam warna. Di bawah celana panjangnya yang hitam, tampak kaus kaki berwarna merah keunguan yang menyala-nyala.

Si ibu yang menjinjing dua tas besar itu tergesa-gesa berjalan menuju WC berlambang wanita. Rupanya ia salah masuk ke ruang WC pria.

Dua orang penunggu kereta di samping saya langsung terkikik. “Ah si Ibu. Kan WC ada gambarnya. Masa gak keliatan.”