Tengah hari, 16/03/16, di ruang pascaoperasi persalinan: Terdengar percakapan dari tempat tidur sebelah, antara seorang pasien dan perawat.

Anak saya gimana, Sus?
Sehat, Bu.
Anak saya lengkap kan, Sus?
Lengkap, Bu.
Semuanya ada?
Ada, Bu.
Hidungnya?
(Si suster terdiam).
Hidungnya pesek apa mancung, Sus?
Oh saya tidak tahu, Bu.
Suami saya di mana ya?
Sedang urus admin mungkin, Bu

Si suster pergi dan tak lama, sang suami datang.

Pa, gimana anak kita?
Beratnya 3,9 kilo, Ma.
Lengkap kan semuanya?
Lengkap, Ma.
Gimana hidungnya?
Ha?
Hidungnya kayak siapa?

Sempat terdiam beberapa detik, tiba-tiba jawaban sang suami dengan suara yang lantang cukup mengagetkan saya di ruang yang sebelumnya senyap itu:
Ya kayak kau lah!!

Di luar dugaan saya, berganti si istri yang kini mendadak diam seribu bahasa.

Tak lagi hirau akan rasa gatal yang menjalari tubuh akibat efek samping anestesi, dengan penasaran saya pun menoleh ke arah kiri, berusaha mencari celah pada tirai. Siapa tahu saya bisa melihat sang tetangga juga hidungnya.