Pukul 9 kurang.
Matahari bersinar cukup terik.
Kereta baru akan memasuki Stasiun Rawabuntu sekitar lima belas menit lagi.

Saya duduk di bangku. Di sebelah kiri saya, ada seorang wanita yang juga duduk. Di samping kirinya, berdiri seorang lelaki yang mencuri perhatian saya.

Lelaki itu mengenakan baju lengan panjang bertudung kepala berwarna abu-abu. Tudungnya ini menutupi hampir semua kepalanya. Masker hijau muda menyembunyikan sebagian besar mukanya.

Kakinya berbalut celana cokelat yang senada dengan sepatu casualnya.

Hal yang paling membuat kening saya berkerut adalah tangannya yang sedang mengutak atik ponsel.

Tangan itu terbungkus sarung tangan plastik tipis seperti yang digunakan orang saat mengolah makanan.

Sarung tangan itu berembun, menyisakan tetesan keringat di sekeliling pergelangannya.

Tiba-tiba saya menjadi teramat penasaran sekaligus ngeri. Apa yang menyebabkan dia mengisolasi dirinya dari udara luar?

Saya jadi teringat salah satu tokoh dalam buku Inferno karya Dan Brown, yang mengalami gatal di sekujur tubuh dan menutupinya di depan umum.
Aih…

Saya berdiri, melangkah ke ujung peron karena petugas mengumumkan bahwa kereta sedang bergerak dari Stasiun Serpong menuju Rawabuntu.

Sambil berjalan menuju gerbong wanita, saya menengok. Mencoba melihat seperti apa muka dan matanya. Tak berhasil. Ia menunduk terlalu dalam, tetap sibuk dengan ponselnya.

Di Stasiun Pondok Ranji, gerbong kereta mulai agak padat. Pikiran saya kembali melayang ke manusia bersarung tangan plastik tadi.

Apakah orang-orang yang berdesakan dengannya di dalam gerbong memperhatikannya juga ya?