Saya tengah berdiri mengikuti alunan kereta malam itu. Tangan kanan tersangkut di gelang-gelang atas kepala, sementara tangan kiri memegang buku The Shining, sebuah buku teramat lawas karya Stephen King.

Terakhir saya membaca karyanya saat masih kuliah. Thinner judulnya, yang saya sudah lupa apa akhiran ceritanya.

Kini saya mulai gemar lagi membaca karyanya, karena ternyata bisa mengusir rasa jemu di atas kereta ataupun bus Transjakarta. Saya bisa begitu tenggelam dalam kisahnya sehingga tak terasa tiba di tujuan.

Terdengar pengumuman bahwa sebentar lagi kereta akan memasuki Stasiun Rawabuntu. Sedikit enggan, saya tandai halaman dengan menyelipkan penanda buku, meninggalkan adegan pembunuhan yang meninggalkan noda darah di dinding kamar hotel.

Noda darah…
Setelah memasukkan buku ke tas, saya tercekat melihat genangan darah di gerbong, tepat di depan tempat duduk di seberang kanan sana. Warnanya agak cerah. Bukan kehitaman.

Jumlahnya cukup banyak. Saya bertanya-tanya dalam hati, luka seperti apa yang mengeluarkan darah sebanyak itu? Pastinya luka yang cukup besar.

Di depan genangan itu, ada banyak tetesan darah mengarah ke pintu. Saya celingukan mencari pemilik darah itu, karena banyak orang berkumpul di pintu, hendak turun.

Ternyata tak hanya saya. Penumpang di sebelah kiri saya dan beberapa orang lainnya mengerenyitkan dahi sembari melihat ke arah lantai.

Tak lama, saya dan penumpang lainnya menemukan sumber tetesan darah tersebut. Milik seorang ibu berkerudung putih dengan balutan celana hitam. Ia menenteng tas plastik putih besar yang tampak tak ringan.

Saya mendengar ia menjelaskan kepada wanita di sebelahnya dengan suara lantang, “oooh itu dari kantong plastik saya. Itu buah. Buah naga. Tadi pas saya duduk, tasnya kedesak-desak. Jadi buahnya hancur deh.

Ia berkata seraya membuka plastik tersebut. Sepertinya hendak meyakinkan orang-orang di sekelilingnya. Wanita di sebelahnya pun mengintip ke dalam kantong plastik itu, kemudian mengangguk maklum.

Penumpang di sekeliling pun menarik napas lega. Saya mengikuti wanita itu dengan mata, yang kini melangkah ke peron Jinjingannya terus meneteskan cairan merah, yang tak lagi terlihat mengerikan di atas aspal peron yang hitam. Kemudian saya jadi penasaran. Bagaimana nanti reaksi petugas kebersihan gerbong melihat ” tetesan darah” ini ya?