Jadwal kereta mundur malam ini. Rasanya lama sekali menanti rangkaian yang menurut petugas sudah berangkat dari Stasiun Palmerah menuju tempat saya menunggu, yaitu Kebayoran.

Belakangan saya baru tahu, bahwa kecepatan kereta hanya 40 kilometer per jam akibat gangguan yang sedang terjadi.

Akibat keterlambatan ini, stasiun cukup ramai. Saya awalnya ragu, bertanya-tanya dalam hati apakah nanti bisa masuk ke dalam gerbong. Apalagi saya menunggu di bagian tengah kereta wanita paling belakang.

Menunggu di bagian ini artinya saya harus siap memanjat, karena platform peron tak sampai di sini akibat adanya pembangunan stasiun.

Dan dengan demikian, memanjat menuju pintuk masuk gerbong yang sudah penuh akan menjadi perjuangan tersendiri jika ingin terangkut ke stasiun berikutnya.

Kereta akhirnya tiba. Untungnya bagian tengah gerbong ini dilengkapi dengan tempat untuk menginjakkan kaki, sehingga memanjat ke atas gerbong tidaklah terlalu sulit.

Saat memanjat, penumpang tetap harus meraih pegangan pintu bagian dalam, agar bisa menarik dan mengangkat badan ke atas.

Di tengah kerumunan penumpang yang akan naik, saya berhasil meraih pegangan tersebut. Namun seorang penumpang yang naik setelah saya, menjerit kaget saat meraih pegangan yang sama.

Saat masuk ke gerbong dengan posisi mundur, wanita paruh baya berbaju merah jambu dengan gambar hati kecil berwarna abu-abu itu terkikik sambil berbincang dengan wanita cantik berjaket cokelat, yang tengah berdiri di dekat pegangan pintu.

“Ibu kaget ya bu?” tanya wanita cantik ini sambil tertawa geli.

“Iya! Saya pikir apaan waktu pegangan di situ. Empuk-empuk gitu.”

“Taunya apa?” tanya penumpang berbaju putih yang juga baru naik di sampingnya, dengan penasaran.

Sambil tetap tetap terkikik geli, si ibu berbaju merah jambu pun menyahut, “taunya itu jari.”